Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki program terobosan untuk mewujudkan swasembada beras hingga ekspor di tengah tantangan perubahan iklim dan pandemi covid 19 tahun 2022.

Yakni Gerakan Indeks Pertanaman (IP) 400 atau tanam dan panen padi 4 kali setahun yang merupakan cara baru dalam mengoptimalkan potensi pertanian dan sumberdaya air untuk meningkatkan produksi dan ujungnya stok beras nasional.

Kepala Balai Besar Penelitian Padi, Badan Litbang Kementan, Yudi Sastro mengatakan salah kunci keberhasilan pertanaman padi, khususnya 4 kali setahun (IP400) yakni ada pada penggunaan benih.

Salah satu benih yang sedang berkembang dan banyak dicari petani adalah adalah benih padi super genjah karena memiliki kelebihan umur lebih pendek, juga potensi hasil panennya tetap tergolong tinggi karena bisa mencapai 10,2 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar (ha).

“Salah satu tujuan dirakitnya varietas unggul bar umur sangat genjah adalah untuk meningkatkan indeks pertanaman. Dengan umur panen lebih singkat, masih memungkinkan kecukupan air sehingga bisa panen optimal,” demikian dikatakan Yudi dalam webinar Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Propaktani, Rabu (2/2/2022).

Lebih lanjut Yudi menjelaskan varietas genjah yang baru dilepas Balai Besar Penelitian Padi adalah Respati.

Menurutnya, varietas Respati selain menambah preferensi petani terhadap varietas unggul baru juga bisa menjadi pilihan baru untuk padi umur genjah.

“Dengan potensi hasil tinggi yang mencapai hasil 9,7 ton perhektar, dan rata-rata hasil 7,5 ton perhektar dari sejumlah lokasi pengujian, menjadi pilihan tersendiri bagi petani yang membutuhkan varietas umur padi genjah produksi tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Badan Litbang Kementan, Fery F. Munier menegaskan keberadaan varietas unggul baru super genjah dengan kualitas beras yang baik ini akan menambah minat petani budidaya kembali setelah panen musim tanam (MT) pertama, bahkan MT 2 bagi daerah yang ketersediaan airnya cukup. Potensi hasil panen padi super genjah pun tergolong sangat tinggi, karena bisa mencapai 10,2 ton GKP per hektarnya.

“Di lahan sawah, postur tanaman varietas super genjah cukup pendek karena hanya setinggi 95 cm, sehingga lebih tahan rebah. Anakan varietas super genjah juga banyak, jika dibudidayakan optimal berkisar 30 hingga 40 anakan,” sebutnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat mengungkapkan mengenai kiat sukses berhasil dengan program IP 400. Ia mengatakan salah satu kuncinya adalah dengan perbenihan in-situ, yakni perbenihan yang dilakukan dengan mengambil spesies target (on-site ), dalam ekosistem alami atau aslinya.

“Produksi benih in-situ dapat dilakukan dengan pemberdayaan kelompok tani sebagai produsen benih dan bermitra dengan produsen benih,” jelasnya.

Di kesempatan lain, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menuturkan IP400 merupakan Gerakan meningkatkan Indeks Pertanaman 4 kali dalam setahun dan ini perlu disosialisasikan kepada petani dan masyarakat. Ini salah satu upaya untuk meningkatkan produksi untuk menjamin kecukupan dan ketersediaan pangan seiring dengan laju pertambahan penduduk yang membutuhkan tambahan konsumsi beras dan juga mengatasi alih fungsi lahan sawah produktif yang setiap tahun bertambah.

“Disamping itu dengan bisa menanam 4 kali dalam setahun tentunya pendapatan petani pun akan meningkat. Pemerintah terus mendorong agar Gerakan ini terus berkembang dan di tahun 2022 ini sudah hampir 200 ribu hektar di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang akan mengembangkan IP400,” jelasnya.

Suwandi menjelaskan strategi keberhasilam IP 400 antara lain bagaimana ketersediaan air sepanjang tahun bisa dengan irigasi, pompa, embung, penggunaan benih genjah dan super genjah dengan persemaian di luar pertanaman sistem culik, bisa dengan dapok atau persemaian di galengan dan pekarangan. Penggunaan pupuk organik dan pengurangan secara bertahap pupuk kimia, pengendalian hama terpadu, manajemen tanam dan panen yang singkat dan efisien, 5 sampai 10 hari dengan mekanisasi, alsintan pra dan pasca panen.

“Kunci keberhasilan IP400 adalah manajemen waktu dan teknik tanam-panen yang efisien. Dalam pengembangan IP400, petani dapat mengakses KUR untuk pembiayaan, dikelola secara kolektif atau korporasi sekaligus mengelola pengolahan/hilirisasi sehingga meniningkatkan nilai tambah petani. Juga dilakukan kemitraan dengan produsen saprodi, offtaker, penggilingan Kostraling,” tuturnya.(**)

Editor  : Lasman Simanjuntak

Tinggalkan Balasan