Balitbangtan Sukses Gelar Workshop Internasional tentang Pengembangan dan Transfer Teknologi Padi

Banjarmasin, BeritaRayaOnline,-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sukses gelar Workshop Internasional dengan tema Co-development and Transfer of Rice Technology yang berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 11-13 September 2019.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari negara Laos, Malaysia, Filipina, serta para peneliti dari sejumlah unit pelaksana teknis dan unit kerja dibawah Balitbangtan.

Pada hari pertama, kegiatan diisi dengan kunjungan ke kebun percobaan Belandean . Di sini para peserta diajak melihat 12 varietas lokal dari empat negara yang sedang dievaluasi berdasarkan preferensi atau selera petani. Dari kegiatan ini diketahui sebanyak lima varietas yang berpotensi untuk dikembangkan yakni L#05 dari Laos, Caong dari Filipina, IR 856627 dan Pulut Siding dari Indonesia, dan Mr 269 dari Malaysia.

Menurut Peneliti Balitbangtan Dr Puji Lestari, lahan rawa menjadi salah satu kendala petani dalam menanam padi, dan masalah tersebut diharapkan dapat teratasi dengan dengan adanya varietas ini.

“Selain untuk mendapatkan padi unggul dengan produktivitas tinggi khusus rawa, varietas ini tahan cekaman Fe yang menjadi penyebab turunnya produktivitas padi. Selanjutnya kita akan lakukan uji multilokasi dan mungkin dilanjutkan dengan pelepasan varietas,” ujar Puji.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Hendri Sosiawan CESA menyebutkan bahwa preferensi petani tetap menjadi prioritas saat uji multilokasi nantinya, karena masyarakat di Kalsel menyukai beras dengan karakter tertentu.

“Petani di sini menyukai beras yang perah, tidak aromatik,” ungkap Hendri.

Hendri juga menyebutkan bahwa keadaan fisik di Kalteng tidak menjadi kendala dalam mengembangkan varietas lokal tersebut karena Balitbangtan memiliki berbagai teknologi untuk mengubah lingkungan abiotik yang salah satunya dengan menerapkan five pilar of swampland management.

Pada hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi tentang strategi pemuliaan padi di empat negara yang terlibat. Sementara hari terakhir kegiatan diisi dengan presentasi dan diskusi tentang progres penyelesaian kegiatan akhir dari project yang telah dilakukan masing-masing negara sejak 2016 lalu.

Co-development and Transfer of Rice Technology merupakan project yang disponsori ITPGRFA-FAO dan didanai oleh Uni Eropa. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilakukan dengan tujuan menjaga keamanan pangan dalam menghadapi iklim global di Asia Tenggara. (Andika Bakti)

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan