Artikel/Opini : Melawan Pandemi Covid-19 dengan Ibadah Virtual

Spread the love

Artikel/Opini/Karangan Khas

Melawan Pandemi Covid-19 dengan Ibadah Virtual

Oleh  : Pulo Lasman Simanjuntak/Wartawan BeritaRayaOnline

Dalam acara breefing dan pembekalan materi program fellowship jurnalisme perubahan perilaku untuk wartawan media cetak dan media siber melalui media zoom (webinar) pada Rabu lalu (14 Oktober 2020), Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 mengatakan ada istilah 3 W untuk menghindari Covid-19.

3W tersebut yaitu IMAN = wajib menjalankan ibadah sesuai agama, AMAN= wajib memakai masker, wajib menjaga jarak, wajib mencuci tangan, serta IMUN= wajib olahraga teratur, wajib istirahat cukup, wajib tidak panik, wajib gembira, dan wajib makanan bergizi.

Nah, dalam kesempatan ini saya tertarik dengan 3 W tersebut terutama W-pertama yakni IMAN = wajib menjalankan ibadah sesuai agama (masing-masing-red).

Sebagai penganut agama Kristen (Advent), saya akan menceritakan bagaimana sebagai jemaat dan sebagai anggota keluarga yang beriman, kami bisa (puji Tuhan-red) melawan pandemi Covid-19 selama selama kurang lebih tujuh bulan ini  ( 14 Maret 2020-14 Oktober 2020).

Sebagai anggota  Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara, Jakarta Timur, pada hari Senin, 16 Maret 2020, kami mendapat surat edaran dari Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB) Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dan Kantor GMAHK  Konference DKI Jakarta & sekitarnya bahwa terhitung mulai Senin, 16 Maret 2020 semua kegiatan IBADAH gereja harus DIHENTIKAN sesuai himbauan Pemerintah RI cq Kementerian Agama RI, guna memutus mata rantai penularan Covid- 19 yang saat itu  ada tiga WNI bermukim di Kota Depok sudah terpapar dan terinfeksi virus corona.

Sehingga terhitung mulai Senin 16 Maret 2020 majelis Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara memutuskan untuk patuh dan tunduk kepada Pemerintah RI-termasuk juga imbauan Gubernur DKI Jakarta Anis Bawesdan- pada saat itu agar IBADAH dipindahkan ke rumah masing-masing.

Pada saat itulah semua kegiatan jemaat gereja advent “berpindah” ke rumah masing-masing, serta diharapkan dengan ibadah di rumah, salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Beberapa minggu, sekitar bulan Februari 2020- dan masih ibadah di gereja- sebelum pemerintah menghimbau agar ibadah, sholat, atau sembahyang baik untuk umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Chu harus dilakukan di rumah masing-masing, kami dari jemaat Gereja MAHK Jatinegara telah antisipasi untuk penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) untuk melawan pandemi Covid-19 ini.

Pada saat itu terus terang pengetahuan dan informasi yang kami terima mengenai virus corona – pertama kali ditemukan di Kota Wuhan Tiongkok ini- selaku jemaat gereja advent masih sangat terbatas.

Namun, saat itu Pdt.Dr.R.Y.Hutauruk, selaku Gembala Jemaat GMAHK Jatinegara langsung minta kepada jemaat untuk gotong royong membangun fasilitas cuci tangan dengan air mengalir di depan pintu masuk gereja.

Saat itu kami baru tahu, untuk menghindari virus yang bisa menular dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lain ini, harus sering rajin cuci tangan.

Bagaimana penggunaan masker saat ibadah di dalam gereja advent Jatinegara  pada akhir Februari 2020- 14 Maret 2020 lalu. Nah, ini yang menjadi persoalan karena ketidakmengertian kami sebagai jemaat.

Saat itu memang pemerintah cq Menteri Kesehatan RI hanya menghimbau bahwa pemakaian masker hanya untuk orang sakit saja, tetapi untuk orang sehat boleh tak perlu pakai masker.

Namun, saya melihat saat itu -masih awal Maret 2020-  beberapa jemaat gereja advent Jatinegara sudah ada yang memakai masker (kebanyakan mengaku sedang flu berat-red).

Dan, bahkan pada Sabat (Sabtu, 14 Maret 2020) sudah ada seorang jemaat yang tak mau lagi “bersalaman” secara langsung, tetapi cukup melipat kedua tangannya dan tersenyum saja.Masih “aneh” memang saat itu beribadah pakai masker dan tak tak mau bersalaman.

Pada ibadah yang terakhir Sabat (Sabtu, 14 Maret 2020) di gereja advent Jatinegara ada sesuatu “mujizat” Tuhan yang luar biasa terjadi, yang juga masih terkait dengan wabah virus corona.

Pada saat itu jemaat gereja advent Jatinegara mengundang seorang pengkhotbah Pendeta BS (sengaja saya singkat namanya-red) dari Kantor GMAHK Konference DKI Jakarta & sekitarnya.

Pada mulanya suasana biasa-biasa saja.Khotbah seputar penginjilan berjalan dengan normal, sampai selesai sekitar pukul 13.00 WIB.

Lalu kami siang bersama (putluck) di belakang gereja.Suasana santai,sukacita, dan canda ria antara jemaat dengan Pendeta BS berlangsung sampai jelang sore hari.

Saya sebagai Pemimpin Departemen Pelayanan Perorangan (PP) GMAHK Jatinegara hampir setengah hari itu “menemani” Pendeta BS.Bahkan  sempat ‘kontak fisik’  dan sampai selesai makan siang bersama.

Malahan sayalah  orang terakhir yang mengantar Pendeta BS sampai ke mobilnya disebrang jalan dekat Rusunawa Jatinegara.

Apa yang terjadi kemudian? Pada hari Rabu (18 Maret 2020) saya mendengar Pendeta BS masuk rumah sakit di kawasan Bekasi Timur.Gejala deman tinggi, dan diagnosa dokter gejala penyakit typus.

Pada Hari Minggu ( 22 Maret 2020) akhirnya Pendeta BS meninggal dunia di rumah sakit tersebut.Dan, dikubur di TPU Pondok Rangoon Jakarta Timur dengan standar pelayanan kematian suspect virus corona.Semua petugas jenazah lengkap memakai Alat Pelindung Diri (APD).

Dan,dua minggu kemudian diumumkan melalui Group WA bahwa hasil rapid test dan swab test Pendeta BS ternyata meninggal dunia positif Covid-19.

Jemaat gereja sempat “panik”,  apalagi saya yang kontak fisik terakhir dengan almarhum Pdt.BS di gereja  (14/3/2020). Bahkan, ada seorang kawan di kawasan Kampung Melayu Jakarta Timur yang “menghindar” ketika saya mau ajak ngobrol.Karena ada isyu keras saya kontak terakhir dengan almarhum.

Puji Tuhan, dengan BERDOA dan beriman kepada Allah- dan mengutip Firman Tuhan dalam  Injil Matius 21 :22 dan Yakobus 5:16 b-dua minggu kemudian saya tetap dalam kondisi sehat wal’afiat.Semua jemaat gereja advent Jatinegara berkat pertolongan Tuhan, juga dalam kondisi sehat, bahkan sampai hari ini.

Pada akhirnya ibadah terus dilanjutkan.Kali ini bukan di gereja,tetapi di rumah masing-masing.Dan, sampai Sabat kemarin (Sabtu, 24 Oktober 2020) ibadah dilakukan secara virtual (online) melalui aplikasi zoom.

Pdt.Dr.R.Y.Hutauruk selaku Gembala Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara dalam setiap khotbahnya kadang selalu menyinggung bagaimana kita sebagai umat Tuhan ‘jangan takut’ melawan pandemi Covid-19 ini.

“Jangan takut, ada Yesus yang akan menolong kita.Mintalah pertolongan kepada Allah melawan pandemi ini. Tentang pandemi virus corona ini sudah ada dalam nubuatan Alkitab yang disebut penyakit sampar,” begitu salah satu petikan khotbah Pdt.R.Y.Hutauruk yang saya catat dengan baik.

Dalam Injil mengenai Nubuatan dan Khotbah Akhir Zaman ini -termasuk penyakit virus corona- telah ditulis dalam Matius 24 : 3-24.

Melawan virus corona dengan ibadah secara virtual-selama tujuh bulan ini-memang membuat IMAN  kerohanian kita semakin kuat.

Melalui ibadah virtual untuk melawan pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan ini , sering saya mendengar janji Tuhan dalam Mazmur pasal 91 : 1-12 yang juga sering dipakai sebagai ayat inti dalam khotbah-khotbah virtual (zoom) oleh para Pendeta atau para Hamba Tuhan khususnya di lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK).

Selama tujuh bulan terakhir ini jemaat GMAHK Jatinegara sampai Sabat kemarin (Sabtu, 24 Oktober 2020) masih beribadah secara virtual (online) baik itu Kebaktian Sekolah Sabat Anak-Anak (SSA, Kebaktian Sekolah Sabat (SS) Dewasa, Kebaktian Jam Khotbah,  Kelas Kemajuan Pathfinder & Adventurer, CMG, sampai Kebaktian Pemuda Advent (PA).Dan, Kebaktian Permintaan Doa Rabu Malam, serta kebaktian virtual lainnya.

Sebagai penutup tulisan artikel ini saya akan publikasikan puisi (sajak) yang saya ciptakan sekitar April 2020 lalu yang isinya seputar (update) virus corona dan melawan virus corona dengan IMAN dan minta Pertolongan Tuhan.

Puisi

Karya : Pulo Lasman Simanjuntak

Akhirnya, Puisiku Bertempur Bersama Virus Corona

1
Sungguh Tuhan
-pagihari ini-
kotaku masih dibasahi derasnya hujan tangisan
tersembunyi empat belas hari
tanpa upacara pemakaman
serta nyanyian ratapan.

Hanya dari jauh kurekam keramaian kuburan, dan hiruk pikuk pasar tradisional
kusebut lagi nama Tuhan
yang berkumur dengan ribuan binatang liar.

2
Kulihat lagi dengan kesedihan (ada amarah !)
306 peti mayat (kini 2300) sudah terbungkus
kulitnya makin hitam
terbaring lurus-
memanjang dimasukkan ke liang lahat-
semoga malaikat Tuhan
memberikan penghiburan

berlaksa-laksa puisi telah kutulis
tanpa nisan.

3
Taman yang dulu subur
kini ditumbuhi pohon dan semak mengerikan
turun ke dalam dunia orang mati
yang terpapar sunyi ;
angin jahat-
terinfeksi paru-paru puisiku
tanpa pengaman, bandara, mall, dan stasiun kereta dibuka
untuk berciuman dengan bau maut.

4
Virus Covid-19 ini
terbang tanpa sayap rajawali
dari  kota tirai bambu menuju negeriku
yang telah porak- poranda
oleh doa dan airmata
jeritan pilu seperti airmata berdarah;
dari rumah duka.

Oh, Tuhan
tak mampu lagi
kujalin kata-kata rohani.

Inikah masa kesesakan yang belum pernah terjadi? tanya puisiku sambil memeluk Kitab Suci.

5
Tuhan,
Inilah saatnya kami telah menyerah!

kedua tanganku yang makin mengecil
kuangkat setinggi-tingginya
sampai menuju ke atap langit
pintu surga.

Doa berantai (hari ke-60) malam nanti telah jadi saksi :
kami minta pengampunan dosa-kami minta ampunan Tuhan-
seperti Tuhan telah memberikan pengampunan
kepada bangsa Ibrani
dan kepada seluruh bangsa kami
umat Allah yang tersisa
menunggu jawaban pasti
dan benar.

6
Akhirnya, puisi ini mau berdoa
supaya tak lagi  virus dosa ini
bersetubuh dengan penyakit menular
dari mulut, hidung, sampai mata.

7
Puisiku tiba-tiba sesak nafas lagi
diselimuti selang infus dan tabung udara
rumah sakit bertingkat-tingkat
sampai rinduku kembali bermeditasi
di rumah Tuhan yang kutinggalkan tiga bulan.

Puisi ini  pun kembali kusalin di ruang tamu tujuh hari ;
cuci tangan, lepas masker
baca Firman Tuhan
butuh kekuatan
selesai-haleluya
amin-.

Pamulang, Senin, 25 Mei 2020

(**/BRO-16)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan