Spread the love

Jakarta, BeritaRayaOnline,- “The long and winding road that leads to your door
Will never disappear, I’ve seen that road before
It always leads me here, lead me to your door..”

Sudah lewat tengah malam. Pertemuan baru usai. Ia meninggalkan
Posko #saveTIM ketika Taman Ismail Marzuki sudah senyap.
Sendirian.

Dengan motornya. Pulang ke rumahnya, di Bekasi. Hampir
dua puluh kilometer jauhnya.
Saya tak tahu apa saja yang ia pikirkan di sepanjang jalan, menembus
lengang panjang itu.

Saya tak tahu, apakah ia sempat menggumamkan The Long and Winding Road itu. Tentang pintu dan pintu, yang
menunggu. Mungkin, ia melamunkan baris puisi.

Atau ber-bercakap
sendiri tentang waktu, luka, senja, dan semacamnya.

Sambil berkejaran dengan angin berbau asam arang dan kabut embun yang
nyalang.

Setiap kali menyimak deru motornya, yang perlahan menjauh, ditelan
lorong Taman Ismail Marzuki, hingga lenyap di jalan Cikini Raya, lalu
menatap raut mereka, para anumerta, wajah-wajahnya yang terpajang
di posko darurat itu, kerap saya terkesiap. Mengapa mereka ada di
sini?

Apakah sesungguhnya pesan yang mereka tinggalkan? Apakah
ada yang mencatat pikiran mereka? Seberapa bernilai riwayat mereka
bagi Taman Ismail Marzuki ini? Dan serentetan pertanyaan yang
musykil.

Tak mudah dijawab. Lalu, jawaban apa yang bisa diberikan
untuk mereka, sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, ketika yang
hidup sudah bertukar tempat? Ketika Posko sederhana ini, mungkin
akan menjadi sebuah ruang: panggung pertunjukan, taman, atau
sekedar kedai makanan.

Demikianlah, sejumlah puisi yang termaktub dalam buku ini,
mempercakapkan hal itu. Bertanya dan menjawab. Meski agaknya tak
akan pernah cukup. Tak pernah sudah. Karena pertanyaan dan
jawaban selalu bertunas, liar, beranak-pinak.
Dua puluh puisi dalam buku ini ditulis oleh seorang perempuan
penyair.

Ialah Nuyang Jaimee. Yang sejak awal sekali, dengan kesadaran penuh, menjerumuskan diri dalam pertempuran bertahuntahun, membela Taman Ismail Marzuki. Ia pula, bersama Ical Vrigar
dan Ipoer Wangsa, yang membentuk grup Whatsapp #saveTIM,
beberapa jam setelah diskusi publik yang „ricuh‟ di PDS HB Jassin,
pada 20 November 2019

Ada sejumlah perempuan seniman, yang sejak hari pertama gerakan
#saveTIM dilancarkan, telah bergabung. Umumnya mereka bergiat
sebagai pekerja teater, kecuali Naomi, yang perupa.

Adapun yang
penyair, hanya Nuyang. Meskipun ia juga aktif berteater. Mereka
semua disebut sebagai ‘#saveTIMfemale’ atau Srikandi #saveTIM.
Yang menghadirkan sisi lain dari gerakan pembelaan terhadap Taman
Ismail Marzuki. Mereka yang bergaris wajah lembut, tapi
memancarkan sorot mata membekukan. Sosok mereka terlihat
feminim, tapi militansi mereka bisa mengalahkan nyali lelaki petarung.
Keberanian yang nyaris tanpa takut.
Kesetiaan mereka selalu menjadi perekat.

Penenteram. Tabah. Kuat.
Yang setiap kali meneguhkan ulang tekad dan semangat.

Ada pun Nuyang, ia hilir dan mudik di sana. Sesekali terduduk
diantara gelagat dan kelebat. Mencatat fenomena dengan risau.

Menulis puisi, dan membacakan puisi, dengan suara garau. Kredo dan
manifesto, tentang gelegak pikirannya di tengah serombongan seniman
yang tak ingin dihina oleh hasrat kapitalistik yang menggagahi Taman
Ismail Marzuki.

Ia yang masuk ke dalam pertempuran. Bahkan ke tikungan-tikungan yang tajam, rumit, krusial. Beroposisi melawan
gergasi, kuasa represif yang mengancam marwah kawasan kesenian
itu.

Ia kemudian menjadi tampak berbeda. Saya tak tahu memadankannya
dengan siapa. Bisa jadi, ia justru tak memiliki padanan.

Perempuan penyair yang masygul, marah, atas ketidakpedulian, ketidakadilan, dan
kesewenang-wenangan. Yang menyimpan rasa perih, lalu
meletupkannya dengan ekspresif. Menjadi gumam, lenguhan, rutukan,
pekikan, seruan. Retakan yang pecah di tembok kesunyian.

Grafiti dengan huruf besar, lugas, dan bernyala. Torehan isyarat dalam tanda
seru. Jauh dari eufemisme. Hampir tanpa jeda. Seperti letupan
kembang api yang ditembakkan di langit dinihari.

Di antara bulan yang
berwarna merah, garis melengkung, berkas lintasan tujuh burung malam yang melayang ke utara. Manakala orang-orang tengah tidur
lelap.

Enam puisi: Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya, Panjang Umur
Perjuangan I, Panjang Umur Perjuangan II, Setelah Pertunjukan
Usai, Anumerta, dan Tuhan Turun Malam Ini, terutama, adalah
kesaksian dengan debar mengharukan tentang malam dan siang di
posko darurat #saveTIM, rapat gelap dan terang, pemikiran yang
menggerunyam di dasar benak para seniman yang datang dan pergi,
seratus orasi, dan kata-kata yang diasah dan diruncingkan.

Menyuarakan, “Pekik mematikan dari Cikini Raya,” begitu ujarnya.

Ia pun menolak menjadi “seniman naif yang masih berteriak soal
idealisme, kebajikan, filsafat, nostalgia, onani, ejakulasi dini, lalu
terjerat dalam ketidakberdayaan melawan kekuasaan yang terorganisir
menyusun dosa-dosa”.

Demikianlah saya mencermati sejumlah puisinya. Yang biasanya ia
tulis pada pukul 23.22, 01.14, 02.23, dan seterusnya. Tak jarang
berselang, satu-dua hari. Pernyataan yang tak kuasa dipendam.

Tak sempat diredam. Seperti magma. Mengalir, deras, dan panas. Puisipuisi panjang, yang menyedot enerji. Dengan getar, gejolak, dan irama,
yang bukan himne, melainkan mars. Dengan kata-kata yang ditabuh
bertalu-talu, dalam tempo vivacissimo, yang cepat dan bersemangat.

Puisi-puisi dengan semangat „poetic resistance‟ yang tebal. Imaji-imaji
sugestif yang bergerak menggeliat tanpa bayangan. Tanpa bungabunga. Tanpa renda-renda. Dengan ungkapan ironi dan kontradiksi di sana sini.

Ada pun keheningan, yang lembut ngelangut, memang tak
mudah ditemukan di antara larik-lariknya. Meski ditulis ditengah
malam. Kecuali dalam satu dua puisi. Batik Ibu, misalnya. Atau,
„monologue interior‟ dalam tiga puisi yang ditulis dengan satu nafas:
Kau Namai Ini Senja. Itu pun tetap saja mengandung derak, seperti
bunyi ranting patah. Atau, seperti bunyi air di jerangan, ketika subuh
pertama turun.

Tapi Nuyang tak sekadar bersandar pada kata. Sebagai perempuan
penyair yang dengan sadar melarutkan diri dalam gerakan #saveTIM,
gerakan moral yang memperjuangkan hak berkesenian, hak atas ruang
ekspresi kesenian, kemerdekaan dan kemaslahatan seniman, ia
melakukan tindakan konkret. Di dalam dan di luar tubuhnya.

Di satu kutub, lewat impuls puitik-retoris, diksi yang keras, dan majas yang
tajam. Dengan nyali dan naluri, yang tak semua perempuan penyair
memilikinya. Di kutub lain, lewat perjalanan panjang aktivisnya.
Membangun dan menggerakkan komunitas sastra di berbagai ruang
dan waktu. Bergegas menyeruak, ke dalam forum tertutup dan terbuka,
sampai ke gang-gang tak bernama. Hingga kemudian, karena itu,
melalui Musyawarah Kesenian Jakarta tahun lalu, ia pun terpilih
sebagai salah seorang kandidat anggota Komite Sastra Dewan Kesenian
Jakarta.

Dan saya percaya pada proses. Ada yang mungkin terlewatkan oleh
Nuyang. Mungkin suasana dengan isyarat implisit, penanda yang
wingit, mungkin pula sesuatu yang sayup-sayup. Semacam bisikan
Chairil Anwar tentang, “cemara menderai sampai jauh”. Atau
musikalitas yang sublim, semisal denting blues di kafe remang para
pengembara waktu, yang dindingnya coklat gelap karena disapu kepul
tembakau berabad-abad. Karena, puisi akan terus ditulis. Ia bisa
bertambah kaya, ia mungkin akan kian berwarna, jika sekali waktu ada
saat untuk pulang, ke dalam hening yang paling bening, di sepanjang

jalan, menembus lengang panjang kontemplasi, seraya
menggumamkan The Long and Winding Road, lagu The Beatles yang
lembut itu, menuju pintu-pintu yang terbuka: seratus kemungkinan,
seratus renungan, seratus imaji, seratus gelas minuman, kopi, teh, jus,
atau anggur dengan rasa mawar dan aroma semesta kenangan dan
renungan.

Saya percaya pada keajaiban proses. Dan berharap banyak. Bahwa
buku berikutnya akan ditulis. Menjadi nasi yang tanak, dengan
semangkuk sayur asam yang pekat, gulai ikan berlemak dengan seratus
rempah, dan aneka lalapan. Dan racikan sambal matah, atau sambal
dadak, sambal rica-rica, sambal andaliman, yang tentu saja, tetap
pedas menggigit. Dan membakar. Menjadi pencahar bagi jiwa-jiwa
yang tumpul-beku.(*)

Catatan : Makalah /tulisan Tatan Daniel ini disampaikan dalam acara peluncuran dan bedah buku antologi puisi tunggal PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA karya Penyair Perempuan Nuyang Jaimee di Aula PDS.HB.Jassin, Lantai 4, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat, 1 Desember 2023.

Pembicara
1. Prof. Dr. Wahyu Wibowo
2. Tatan Daniel ,Moderator :
Rita Sri Hastuti

MC :
1. Nanang R. Nanang Ribut Supriyatin
3. Shantined

Pembaca Puisi :
1. Guntoro Sulung II
2. Yogi S. Karmas
3. Jack Al-Ghozali
4. Iyus Jayadibumi Kromatik

(BRO-1)

Editor : Lasman Simanjuntak

 

 

 

Tinggalkan Balasan