35 Puisi (1980-2016) Pulo Lasman Simanjuntak

35 Puisi :

Karya : Pulo Lasman Simanjuntak

Bersetubuh Dengan Tikus

Kami harus bersetubuh dengan tikus ini
di atas ranjang terowongan dapur
berselimutkan tanah merah
birahiku melepuh
sungguh sudah berminggu-minggu
kukunyah habis spermamu jadi berita utama
di layar televisi, surat kabar, dan media digital
sehingga puisi yang malam ini kutulis
terbuang (percuma)
ditelan dengkur tidurmu

Pamulang, Senin, 18 April 2016, pukul 22.20 WIB

Tanah Lot

Telah kutempuh namamu
lewat cuaca dan mata
hingga suara laut pun
turut mengisi dongeng swastika
alangkah lembut
dunia yang lega.

Katakanlah….
seperti indera kita
menyingkap sejarah iba
kutukan macam apa lagi
membuat bintang-bintang berguguran
di serambi pura
sedang keheningan anak-anak pantai
telah menyatu dengan mesra
menyebar jejakmu kecil
di masa lampau.
Kini tinggal kita yang bertekad
waktu kau hapal keterasinganku
cemas berlumur darah
sebagai layaknya matahari siang
surut di dada
kita pagutkan rindu ini
sebelumnya akhirnya
ia akan membatu.

Di Kota Bangli (40 kilometer) Suatu Sore

-sajak duka bagi Made Anom-
Jangan kau paksa aku
untuk bertanya
mengapa terjadi cuaca !
Dalam suasana pasrah seperti ini
terminal yang esa
biarkan mengetuk-ngetuk pintu
bagi setiap penjelajah
menanti tergelincuhnya senja
memohon seribu dugaanmu.

Sungai Musi Suatu Malam Berkabut

Sungai Musi suatu malam
tanpa mata
berkabut putih- seperti lelehan lepra.
Sungai Musi kubawa tidur lelap dalam sajakku
yang selalu berucap ;
selamat datang penderitaan
selamat datang kesengsaraan…
Tubuhku Bersatu Dengan Suara Ombak Laut Selat Sunda
Kami datang
membawa sebungkus dendam
menyusuri pasir dan injakan karang tegar
sunyiku tak mendaki matahari pagi .
Sejak dalam perjalanan tadi
sahabatku bercerita rakyatku menyedot minyak bumi
dua puluh tahun kemudian kita akan krisis pangan
di negeri khatulistiwa (dua sahabat karib tetap menyodorkan wajahnya untuk dilukis di muka wajah laut).
Di atas meja bundar
gelas demi gelas dihidangkan hiruk pikuk suara ombak laut Selat Sunda
dingin.mengerikan.
kami harus hidup dengan roh rendah hati.

RUMAH DOA (Bag.Pertama)

Di atas bantalan batu-batu dan pasir biru
jadilah sebuah rumah rapuh
ke sana kubangun mimpi-mimpi luruh
alangkah keruh nyanyian penyair pilu
keluh kesah masa laluku.

RUMAH DOA (Bagian Kedua)
Di atas batu dan pasir biru
kubangun mimpi-mimpi kudus.
Enam abad butuh waktu
untuk menjenguk Tuhan
di muka pintu.
Kemana gerangan doa-doa itu
melayang siang dan malam.

DOA PAGI
Seribu hantu menyerbu diriku
saat bertelut
menghadap mezbah Tuhan
dengan kata-kata menghujat berlumur dosa memerah
yang makin melumpuhkan tubuhku
untuk berucap doa-doa sambut matahari pagi.

UPAH DOSA
Airmata mengalir ke sebuah situ
berlabuh dalam rahang otak
musim kemarau
sudah dua abad maut mau meledak
lewat sekilas berita.
O, aku jadi teringat
uang tiga puluh keping perak
untuk si pengkhianat yang menjual kepalsuan
bagi Tuhan.

SAJAK JUMAT SORE
Saat sembahyang menutup matahari terbenam
kubayangkan tubuhku tergantung di tiang bukit tengkorak
sementara di luar jendela hujan deras
makin membuat hatiku gelisah
untuk pulang menuju ke pembaringan malam.

BANDARA INTERNASIONAL CHANGI
1
Lihatlah toko-toko siang ini sudah berdandan
mau tunggu apa lagi mahluk dungu.
Jasad makin usang sepanjang landasan.Permadani batu
tak beri salam tuli
kumpulan kaki yang payah.
2
Percakapan riuh kulipat rapi dalam kopor
menyedot sepi kian berlemak
sampai dari jarak begitu dekat
supir airbus menggosok-gosok jantung.
Pesawat belum menembus lapisan kaca
oi, ada bau lonte.Kuku-kuku birahi
Di sini tanpa beban
sebuah benua dirobek-robek.

DARI SINI
Ketika tiba kudaku dicambuk bulu-bulu
beranda stasiun yang lugu
makin mengeras bumimu berlapis-lapis.
Pacu! Ayo! Pacukan kudaku sarat racun tumbuhan
menuju gurun perang
sampai terkencing mata uang logam.
Logikaku terus berlari…..,berlari
mendaki matahari di kaki mall yang terbakar
faktur-faktur gemerlap.
Perjalanan kilas balik sudah basi
giliran lewat siapa harus berkemas
dari atas tenda pencuri kembang-kembang gula
ataukah menggilas rakus
roda-roda aspal.
Tercatat biodata dengan air tinta merah
aku melirik
tangannya adalah ratusan mercon
siap meledak
dalam saku celana.

KHOTBAH
Di sebuah Kaabah Tuhan
yang dibangun zaman batu
firman kebenaran dihembuskan
pada musim kering
akupun jadi terinspirasi.

SAJAK PERJALANAN EPISODE PERTAMA
Badai mengamuk
dari mulut sungai tak tercatat dalam kitab.
Wajahmu membatu batasi bibir laut
aku sendiri bahasa bisu,suara protes
seperti angin berlalu.
Membujuk ke kancah perang
tak bermimpi permukiman-permukiman kumuh
serangga liar yang lapar
dan orang-orang sudah ditidurkan
di sebuah negeri gaib.
Pada zaman abad terbalik
masihkah penyair berpolitik,tanya Mr.Asart.
Sesal dibanting di trotoar jalan
perkawinan retak
terbentur dinding kapal.

SUNGAI BATANGHARI DALAM PUISI
Mendayuh sampan ke muara
matahari tercemar
sepanjang sejarah pantai timur sumatera
nelayan telah kehilangan pelabuhan.
Dalam kenangan digelar jembatan terpanjang
tempat menjerat mimpi-mimpi teduh
di dasar sungai dari hulu hingga ke laut
ikan-ikan tak pandai berenang.
Situs-situs
tercecer.Menunggu janji sakti.

TRAUMATIK
Stasiun radio kuusung dari belakang punggung
unjuk gigi hewan-hewan melata
matahari mengepulkan asap hitam
bencana berantai
tidurku meninju bulan yang berdarah.
Membuntingi pohon tunggal
perawan bertekuk lutut
perut ditikam belati
kehilangan air mani
kabar celaka
membuatku makin menarik minat
membenturkan geger otak ke dalam kulkas.
Kebaktian sudah genap
bapak menggali kuburan riuh
saudaraku menjala pertempuran
badai gurun
jasad beradat penuh
terbaring angkuh
di atas papan catur.
Berkembangbiaklah bumi yang labil
turut berenang di dalam lautan tak bertepi
ataukah menelan bunga-bunga karang
tanyaku waktu itu
mengapa dewan-dewa rajin mabuk
menjaga pintu kematian
sekian waktu dikhianati
jadi suatu dongeng
huruf-huruf lumpuh di lembaran koran
aku kecurian tanah-tanah pijak
sepuluh tahun kubangun jadi tugu hijau dihatimu
mencair.untuk penyair atau penginjil.

PERTEMUAN II
Siapa mau bersajak.tiang-tiang beton salah dihapalkan
penyanyi beriman, itu pikiran pertama
menyergap percakapan di pintu rumah
satu abad kemudian
sepotong ginjal tak bernilai jual
potret semua perkawinan retak
setia bersetubuh dengan birahi angin.
.
PERTEMUAN IV
Mari kita membangun kapal besar di atas gunung batu
suatu pertemuan ribuan jam terbang
sibuk mencuri buah jarum
dari dalam perut laut
kemarin disodorkan
daging adat
sekarang kesetiaan darah anggur
harus dipikul rata.

Hujan, Hatiku Gelisah Ingin Turun ke Sawah
Sejak kemarin sudah kulakoni
rumah tangga yang hancur
menyebar firman-Mu melalui media digital
menjadi teladan bersolek di kaca di gereja.
Lalu berbicara dengan suara lantang;
anak-anak di Damaskus Suriah yang kelaparan
anggaran negara defisit Rp 290 triliun
hingga PHK massal bertabrakan dengan kendaraan di jalan.
Pagihari ini
semua jadi berubah total
kulihat air rawa
di tubuhnya ada sawah.
Perahu berlayar
dengan pose seperti seekor macan
menyesal dan harus berdiam
seperti keterasingan diri.
Pamulang, Februari 2016

HARI-HARI BURUK

Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala secara membabibuta ekor lusifer melibas mulutnya yang liar sehingga jantungku kian kusut meledakkan suatu amarah jadi berkesinambungan di belakang rumah Tuhan
.O, sungguh puisi ini mau bercerita ketiga kali umat Tuhan disakiti seperti bongkahan batu mau menimpa kepalaku tak sanggup lagi berbicara tentang nasehat Firman Tuhan.
Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala seorang rahib berkhotbah dua atau tiga puisi berbalut darah hitam.Menyerang kembali wajahku jadi rusak.Jari-jari tanganku jadi tegang kembali.
O, mengapa rumah Tuhan berubah jadi rumah jagal hewan amat menakutkan.Otakku dikuasai roh setan, malaikat-malaikat Tuhan melembutkan hatiku, pecah lagi mengeluarkan nanah yang membusuk.

Pamulang, 2015
Taman Getsemani
Usai upacara komuni
menuju seberang tembok Kota Yerusalem
garang dan liar
ke sana kubawa rerumputan hijau
bunga-bunga surga.
Tanah malam jadi basah
airmata mencekam
bulan meleleh
ke pelupuk mata para rasul.
Angan-angan kudus Sungai Kidron
membentur pada doa-doa syafaat
keterasingan diri
jadi sebuah penderitaan yang dalam.
Ditariknya tangan Petrus, Yakobus, dan Yohanes
menuju tangga batu
langit yang baru ; membiru !
Angin jahat telah meniup dosa
meninabobokan dua belas tubuh letih
di atas batu nisan
direbahkan diri ke tanah.
“Ya, Abba, ya Bapa……
ambilah cawan dosa ini daripadaku,” seru Yesus
membuka jendela langit
terbuka bintang-bintang berkejaran
peluh-Nya menjadi titik-titik darah
mencair ke tanah.
Ini doa krisis terakhir untuk murid-murid
ini doa krisis terakhir untuk kita semua.
Cawan Kristus begitu berat
bukan kesakitan
dicambuk dan disalibkan
bukan penderitaan
mental dihina dan ditolak
ini adalah penderitaan rohani
memikul dosa dunia.
Nasib dunia ditentukan
nasib manusia diitimbang.
Bekasi, Juni 2015

Perjamuan Kudus

Hari raya roti tak beragi sudah tiba
domba paskah siap disembelih
di sebuah ruang atas
besar, tegang, dan berbatu-batu.
Matahari tertidur pulas
cuaca amat pekat
namun, hati manusia
dibakar api yang berdarah-darah.
Mata rohaniku melihat
mata rohaniku tertuju
mata rohaniku terbawa
terbuka lebar-lebar
salib….salib…..
di bukit Kalvari.
Yesus Kristus bersiap untuk membasuh
kaki-kaki bergetar
kaki-kaki gelisah
kaki-kaki lumpuh : tak bergerak !
sangat kotor oleh lumpur khianat
dari rawa-rawa dosa.
“basuh…..basuh… kakiku, kepalaku, mukaku, tanganku, rambutku,
dan telingaku,” seru para rasul dengan suara gempita.
Mereka harus rendah hati
mereka harus saling kasih mengasihi
kita semua yang ada di sini
hari ini diajarkan: kasih Tuhan Yesus Kristus !
Setelah itu kudengar
ada ucap dan berkat
ini roti tubuh Kristus
ini anggur darah Kristus
darah perjanjian
darah yang menderita
darah yang tiba-tiba mengingatkan akal dan budiku
melayang-layang menuju bukit Golgota.
aku terjatuh. bangkit. lalu bersujud
satu permintaan;
pengampunan dosa.
(tiba-tiba aku teringat kembali ada suara menjerit
Eli…..Eli….. Lama…Sabatani…
Tuhanku…Tuhanku ….mengapa Engkau meninggalkan aku).
Yesus tahu
saat-Nya sudah tiba
dari dunia kembali ke surga.
Setan tak dapat mengalahkan maut
kita semua dibangkitkan
dalam kemenangan abadi.
Jakarta-Bekasi,

Sajakku Berdamai Dengan Tikus

Ketegangan ini dimulai dari sini ;
kematian dini
semalam suntuk bercakap-cakap
tanpa bunyi petasan
dua puluh lima abad
birahiku meledak
tawa dan ibadah
kusalin untuk terakhir kali
dalam sebuah pesta
berakhir dengan pernikahan yang kudus.
Pamulang, Februari 2016

Sajakku Bersukacita Dalam Nyanyian Lagu Sion
Sungguh, Petra….
kusimak doamu yang mengerikan
dengan kornea mata lumpuh
kau sebut satu per satu kerinduan
masa kanak-kanak hingga pensiun dini
tak alpa sebut nama Tuhan
cerita bagaimana Injil dipeluk erat-erat.
Mulai tembok yang sempit, lingkungan kumuh
bau minuman keras, percabulan
sampai kau miliki sebuah rumah hijau
yang tak pernah kau lihat lagi
di sana telah tumbuh pohon yang telah mati haid.
Kutatap mimbar kudus rabu sembahyang
” Lihatlah, hidup makin sulit, teknologi digital
telah bersatu dengan
utangku dua ratus sembilan puluh triliun rupiah,” kataku.
Petra lalu menjawab
-bukan dalam puisi –
hanya berbisik dengan mulut yang bau sunyi membusuk.
“Tuhan mau datang…. Tuhan mau datang,”katanya sambil terus
memukul tongkatnya keras-keras
sekeras kepalanya yang ditutupi kacamata hitam.
Pamulang, Februari 2016

Masa Perjalanan
Telah jamnya tiba
pejalan kaki tak pernah merayu
kudanya mati di rawa
betapapun gunung-gunung buta
jadi sepond cinta
kehilangan makna.
Matahari berpacu dalam pot
memburu anak-anak kampung
hijrah dari tanah-tanah keramat
menggigit bukit
hingga sepi sejenak.
Selanjutnya dari sini
hanya terlihat selintas
di jantungnya yang sebelah kiri
sebuah perahu pucat berlayar di tengah lautan
tak tertulis lagi
dalam peta.
Bandung, 2015-2016

Hatiku Berlayar Menuju Rumah Tuhan
Menembus subuh berkemeja hitam
tergesa-gesa doa ini alpa direnungkan
ingat pelabuhan laut tanpa kapal
kulahap perjalanan Nabi Musa
kutelusuri jemaat mula-mula
roh-roh yang berhembus
lewat kaca digital dan buku kehidupan.
Selesai sudah imanku dibangun
suara ombak dan angin samudera
jadilah kehendakMu Tuhan.
Pelabuhan Tanjung Priok
Februari 2016

Tanah Papua , Ketakutanku Terbungkus Lima Abad

Perjalanan ini dimulai dari sebuah bandara yang hiruk pikuk
lalu kami ‘terbang’ bak rajawali
menembus malamhari dengan perempuan-perempuan cantik tak pernah ngantuk.
Setelah bersatu dengan terbitnya matahari pagi di wilayah paling timur nusantara
mulailah cerita bertemu dengan keasingan di negeri sendiri.
Oi, selamat datang di hutanTanah Papua.
Tanahku yang menghijau dengan siraman air dingin Danau Sentani.
Pucatlah mukaku dihiasi rambut ikal sepanjang belum menyentuh Kota Jayapura.
Tiba di Lembah Baliem Wamena tanpa penghuni.; sunyi!
mari kita beribadah sehari saja
berdoa di gereja kota
tak terdengar nyanyian pujian
atau rebana ditabuh .
Maka kami pun masuk sebuah hotel
tanpa air jernih
lampu-lampu
dapat menyala di hati kami
hanya tergenang bau rawa.
Perjalanan dilanjutkan menerobos gunung dan bukit meliuk-liuk
mayat-mayat yang diawetkan…….
Jayapura-Wamena
Minggu Desember 2015

Anakku ‘Hilang’ Ditelan Ombak , Kesepian Jadi Batu
Anakku yang gagah sedang menghitung pecahan matahari
terbenam di tubuh laut
Selat Sunda-tanah Banten- situs berdarah.
Seperti burung rajawali, ia sering terbang kian-kemari
sangat liar ,dan bikin kesal hati.
Lihatlah, gigi-giginya yang tumbuh membusuk
seperti karang-karang terjal di atas pasir putih Pantai Florida
yang pagi itu hatiku semakin berwarna warni.
Lalu terjadilah pendarahan dalam kesunyian sendirian di sawung kelam.
Mengapa aku tak bisa berenang? tanya kawan seiman.
Padahal anakku telah gunakan kacamata hitam
untuk memotret ikan-ikan yang bisa terbang
sampai menembus cakrawala kekelaman.
Duh, tubuh dan kulitnya berubah warna;
seperti tak kukenal lagi
dari rahim bumi mana ia menetas.
Ayo…lari….larilah…. kucing anggora anakku …..menuju karang-karang terjal
menuju ombak yang menggulung angin malam
cuaca kian membeku .
Resiko ke depan bukan milikku lagi.
Sebab hanya ada satu pilihan : ikut Tuhan, atau ikut Baal !
Pamulang, Juli 2015

Sajakku Dikepung Asap Pekat 1.060 Titik

Menghitung sembilan puluh hari
tanpa matahari pagi
lalu ditambah tiga kali dua puluh empat jam
jadilah bola mataku (memerah)
berwarna mata srigala hutan
paru-paruku kembali dibakar
di tubuh Sungai Musi
yang telah menghilang dari garis peta buta.
Lalu dari badan Jembatan Ampera
tanpa kapal kayu-tanpa nelayan -kembali kubangun mimpi-mimpi luruh ini.
Mengapa zaman pra sejarah nenek moyang Pulau Sumatera
belum ciptakan api
asap yang berangkat dari sebuah titik panas.
Lihatlah hutanku yang kembali dibakar sangat mencengangkan.
Benar kata Pujangga melayu: bangsa ini harus bertobat sungguh-sungguh!
Bukan andalkan teknologi bom air
yang sewaktu-waktu dapat meledakkan kota ini
jadi sebuah daratan gambut
tak berpenghuni.
Palembang,,Rabu 21 Oktober 2015
Kuterbangkan Sajakku Lima Puluh Meter
Dengan hati cemas
penghuni kota mulai berlari-lari
mengejar api dan bau asap menyengat
timbul dari masing-masing ketiak
– angin jahat berhembus- menembus kaca jendela rumah .
Semua mulut butuh masker
menghindari binatang liar
membawa racun tumbuhan ke atas ranjang.
Kota Palembang Rabu 21 Oktober 2015

Mendaki Bukit Tuban

diselimuti hujan
tubuhnya yang letih
berkejaran waktu
dengan derasnya
aliran sungai dari bukit sebrang.
Lalu kami bersekutu
ladang-ladang batu
bersolek sejak dinihari
tanpa menghadap matahari.
Desaku tak lagi muntahkan
doa pagi
bagi hari perhentian yang dilipat-lipat.
Di hamparan panen raya jagung ini
petani tak pandai bernyanyi lagi
karena harga kiloan dibanting
para importir berwajah bening.
Diceritakan kesulitan;
pupuk kandang tujuh bulan
dan anak-anak yang rindu berenang
supaya bapaknya tak hanya dikenang.
Lalu dilukiskan sebuah tanah embung
musim kemarau sampai musim hujan.
Segera disebar
semangat menanam
dalam puisiku
ada areal persawahan
ada pula ruang batin,
namun,aku tak mau mati miskin.
Tuban, Jawa Timur,Maret 2016
Kota Surabaya di Sini Puisiku Bernyanyi
Kota Surabaya di sini puisiku bernyanyi
tentang masa kanak-kanak
tak sempat bernafas panjang
memotret akte kelahiran
seperti mengunyah permen kehidupan
sunyiku lalu lalang
lalu terbentur di padang ilalang.
Sebuah rumah sakit
tanpa ada penyakit.
Di kota pahlawan ini
perangku berkecamuk
karena mereka telah mengamuk
berulang-ulang birahi makin gemuk.
Mereka saling bertengkar di atas papan catur
disembunyikan di kuburan.
Surabaya 4 Maret 2016

Puisiku Berenang Dalam Lumpur Sawah
Inilah peta perjalanan
bersetubuh dengan hijauan sawah
mencangkul di atas sepi yang basah
petani ternyata masih merintih
berhari-hari harga gabah
terluka parah
celanaku berdarah
disuntik mata uang rupiah.
Kemiskinan ini jadi sebuah sungai
yang mengalir deras
diantara mesin panen raya
terselip senyum Mbok Minah
perlahan hilang
diterjang hujan .
Mojokerto Kamis 3 Maret 2016

Mandi di Ketiak Sawah

Mandi di ketiak sawah
seperti kita memburu waktu
seekor ikan gabus tak lincah
berenang dalam lumpur rahimmu.
Lama engkau tanam benih padi
dalam perutku yang kian tua
namun tetap berbuah.
Seperti karungan beras dan gabah itu
bukan lagi milik petani miskin
atau penyanyi dangdut yang bergoyang
tiap pagi di pintu masuk desa.
Lamongan,Jawa Timur,13 Maret 2016

Hujan, Hatiku Gelisah Ingin Terjun ke Sawah
Sejak kemarin sudah kulakoni
-rumah tangga yang hancur-
menyebar firman-Mu melalui media digital
menjadi teladan bersolek di kaca di gereja
dan berbicara dengan suara lantang;
anak-anak di Damaskus Suriah yang kelaparan
anggaran negara defisit Rp 290 triliun
hingga PHK massal bertabrakan dengan kendaraan di jalan.
pagihari ini
semua jadi berubah total
kulihat air rawa
di tubuhnya ada sawah.
perahu berlayar
dengan pose seperti seekor macan
menyesal dan harus berdiam
seperti keterasingan diri.
Pamulang, Minggu, 28 Februari 2016

Biodata :

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di
Sekolah Tinggi Publisistik (STP-Jakarta).Belajar sastra secara otodidak.Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas.
Kemudian sajak-sajaknya disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, SKM.Simponi, SKM.Dialog, Majalah Mahkota, dan Seputar Indonesia (Sindo).
Buku kumpulan sajaknya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), dan Taman Getsemani (2016/segera terbit). Namanya juga telah masuk dalam Buku Leksikon Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste/Kompas/Gramedia).Pernah bekerja sebagai wartawan Sinar Pagi, Mandala (Bandung), Redaktur Pelaksana wartawan SK.Dialog (1998-2013), dan saat ini sebagai Pemimpin Redaksi BeritaRayaOnline /beritarayaonline.co.id/beritarayaonline.com(23 Maret 2013-sampai sekarang),Pemimpin Redaksi eMaritim.com (2013-2016) dan Pemimpin Redaksi BeritaRaya TV (2019-sampai sekarang)

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan