Kemenko PMK: Soal Vaksinasi Difteri, Jangan Ada Penolakan

 

 

 

 

 

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dr. Sigit Priohutomo mengatakan bahwa Difteri masih menjadi ancaman dan masyarakat harus tetap siaga terhadap gejalanya.

“Sekali lagi saya harap masyarakat jangan ragu-ragu untuk melakukan imunisasi pada anaknya, terlebih saat ini imbas penyakit tersebut masih terlihat,” ucap dr. Sigit Priohutomo di Kantor Kemenko PMK.

Sigit mengatakan bahwa langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang sudah diinformasikan kepada masyarakat bisa dipahami dengan baik. Gejalanya yang harus dipahami adalah munculnya selaput bening ditenggorokan yang sulit untuk dilepas dan jika dilepas akan berdarah. Penderita juga mengalami kondisi demam, sakit tenggorokan sampai pada sulit bernapas.

“Pada tahap lebih kritis toksin dari bakteri difteri ini bisa merusak otot jantung, sel saraf, gagal napas, kelumpuhan saraf tepi, dan infeksi di jantung sampai pada kematian.” jelasnya.

Disisi lain, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek juga menyampaikan bahwa tak ada cara untuk mencegah difteri selain vaksinasi. Upaya itu untuk meningkatkan kekebalan tubuh. “Satu, imunisasi kita meningkatkan kekebalan tubuh kita. Supaya kita kebal, dan akhirnya walaupun ada kumannya kita tidak akan terkena,” ujar Nila.

Karena itu, tambah Nila, dalam proses vaksinasi ini diharapkan tidak ada lagi masyarakat menolak vaksinasi difteri. “Jadi kalau sudah ada wabah seperti kejadian luar biasa (KLB) seperti ini, mau nggak mau kita harus lakukan. Jadi tidak boleh ditolak,” kata Nila.

Kemenko PMK dalam hal ini telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait, khususnya Kementerian Kesehatan dan peran pemerintah daerah sampai pemerintah desa untuk terus melakukan sosialisasi supaya masyarakat bisa menerima vaksinasi, khsusunya terkait program pemerintah yakni Outbreak Renponse Immunization (ORI) atau imunisasi ulang secara masal dari umur tertua yang terkena penyakit tersebut.(***)

 

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan