Catatan Pinggir Kunker Mentan : Sentuhan Mentan Amran Sulaiman Membutuhkan Keseriusan Dukungan Pemerintah dari Semua Lini

 

 

 

 

 

 

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Sentuhan kinerja Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Kabinet Kerja Jokowi-JK, tidak dapat dipungkiri telah melahirkan paradigma baru pembangunan pertanian.

Hal tersebut dapat terlihat dari perubahan manajemen usaha tani tidak lagi hanya menanam saat curah hujan tinggi. Namun, di lapangan para petani sudah mulai mengikuti ide mentan yakni “panen, olah dan tanam”, setiap harinya.

Selama ini petani selalu istirahat setelah memanen tanaman padinya, namun sejak Kementerian Pertanian menggelontorkan ratusan ribu unit Alsintan, berupa pompa air, traktor berbagai jenis bahkan eskavator mini serta transplanter (mesin tanam) dan combine harvester (mesin panen) membuat kesulitan tenaga kerja dapat diatasi. Semua yang dilakukan mentan dan jajaran serta dukungan instansi lintas sektoral terbukti menghasilkan kinerja yang sangat mengagumkan.

Bahkan membuat banyak pihak terkaget-kaget,  bahkan Badan Pangan Dunia( FAO), mengapresiasi kinerja mentan, 2 tahun berturut-turut tidak ada impor beras.Dulu Indonesia menjadi pasar empuk ekspor beras negara di kawasan Asia,minimal 1 hingga 1,5 juta ton, beras impor masuk dengan alasan menjaga stok gudang bulog.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, putera Bone, alumni Fakultas Pertanian Unhas S1 hinggga S3 ini, membuktikan bila ada keinginan dan tekad membaja serta amanah nasionalisme, tidak ada yang tidak mungkin.

Mentan Amran ditugaskan Presiden untuk menyelesaikan carut-marut sektor pertanian mulai dari infrastruktur hingga produksi dapat menyelesaikan sebelum masa tenggat waktu yang ditetapkan.

Seluas 3 juta hektar jaringan irigasi diselesaikan hanya dalam tempo satu setengah tahun, tidak impor beras hanya dalam tempo satu tahun, yakni tahun2015, tahun 2016 hingga 2017 impor beras Indonesia 0 persen. Bahkan Kementerian Pertanian menyelesaikan ketergantungan impor jagung, yang sejak puluhan tahun selalu mengimpor 3,6 juta ton yang setara Rp12 triliun  dapat dihentikan. Demikian juga dengan komoditas bawang merah dan cabai yang selalu impor ,namun saat ini Indonesia sudah ekspor bawang merah ke 6 negara di kawasan Asean.

Kinerja Mentan Andi Amran Sulaiman, bukan basa-basi, terbukti dan diakui banyak pihak, walau semua itu tidak menjamin terbentuknya kestabilan harga pangan. Tak dapat dipungkiri tingkat populasi dan pertumbuhan penduduk Indonesia, menjadi madu yang menarik para pedagang terutama “spekulan” untuk mempermainkan harga.

Pada waktu-waktu tertentu, mentan, sudah mengingatkan mitra kerja lintas sektoral adanya oknum-oknu yang memanfaatkan situasi di sektor pangan dengan memperpanjang rantai pasok dan membuat harga bergejolak.

 

 

 

 

 

Tahun 2017, terlewati bahkan mendapat penilaian yang sangat positif, Rahmadan hingga Lebaran 2017 , tidak ada satupun komoditas primer yang membuat kegaduhan setiap jelang perayaan hari besar terutama Idhul Fitri.

Akhir 2017, mentan terus memantau kebutuhan dan pasokan hampir di seluruh pasar di Pulau Jawa dan luar Jawa, kondisi pasar stabil kalaupun ada kenaikan beberapa komoditas sifatnya masih wajar dan parsial disetiap pasar.

Awal bulan Januari 2018, mentan langsung turun ke beberapa pasar terutama pasar-pasar induk, pekan pertama Januari  2018 kondisi masih stabil .Bahkan di Pasar Induk Beras Cipinang, Jaktim, yang menjadi tolok ukur ketersediaan beras nasional, menunjukkan tingkat pasokan beras, melebihi pasokan normal setiap harinya.Menurut data dari jajaran PIBC, pasokan dan stok stabil hingga memasuki masa panen raya.

Mentan Andi Amran Sulaiman, dalam beberapa kunjungan menyampaikan pada media, bahwa pertengahan Januari 2018  seluruh sentra produksi padi akan memasuki masa panen raya dan meminta kesiapan bulog untuk segera menyerap gabah petani, menjaga stok gudang minimal 1 juta ton beras.

Mentan, juga meminta para pedagang besar agar tidak menahan stok gudang karena petani akan segera panen, pernyataan mentan tersebut bukan tidak beralasan. Kementerian Pertanian di era Andi Amran Sulaiman, memang melakukan perubahan spektakuler yaitu perubahan pola tanam “ASEP dan OKMAR”, April hingga September wajib tanam minimal 1 juta hektar.

Hal ini dilakukan untuk menghapus kata “paceklik” dari kamus pertanian, namun badai melanda ketika adanya keinginan sekelompok orang yang ingin melakukan impor beras, isu impor di ikuti anomali harga beras dan penurunan drastis stok gudang bulog.

Hingga akhirnya menteri perdagangan mengeluarkan rekomendasi impor Beras 500 ribu ton. Isu impor beras, disaat memasuki masa panen, tak dinyana membuat keresahan baru di masyarakat khususnya petani.

Banyak pihak meragukan bahwa pertengahan Januari, mayoritas petani akan memasuki masa panen raya. Mensikapi isu yang simpang siur tentang perberasan, membuat mentan mempercepat skedul kunjungan lapang dan mengajak serta mitra kerja seperti DPR RI, TNI, KPPU, BULOG, Menko Perekonomian, Kemendag, Pers dan stakeholder lainnya.

Berikut catatan hasil kunjungan kerja Mentan dari Prop. Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

 

 

 

 

Kunjungan Kerja Mentan Amran Sulaiman, selama empat hari di Jawa Timur hingga Jawa Tengah, meliputi 5 Kabupaten, sentra beras di Jatim dan Jateng memang sangat spetakuler. Mentan Andi Amran Sulaiman serta Wakasad Letjend TNI. Tatang Sulaiman, Kabareskrim Polri. Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto, Ketua KPPU. Syarkawi Rauf, Dirjen. PDN Kemendag. Tjahja Widjayanti, Direksi Bulog dan beberapa pejabat teras dari Kementerian Perekonomian serta puluhan media, memberikan gambaran baru situasi pangan nasional, mulai dari hulu produksi.

Mengawali kunjungannya, mentan dan rombongan melakukan pantauan hamparan sawah yang siap panen melalui helikopter. Hamparan padi yang menguning bahkan sebagian sudah di panen telah menjawab berbagai isu yang mendegerasi produksi padi nasional.

Isu kekurangan produksi dibantah Pemda Jawa Timur. Cak Karwo, Gubernur Jatim, menyampaikan pada media bahwa Jatim, surplus beras tahun 2017 mencapai 5 juta ton, cukup untuk 2 bulan lebih kebutuhan beras nasional,bahkan  kelebihan beras Jawa Timur didistribusikan ke 15 propinsi.

Desa Gedong Arum, Kec. Kanor, Kab. Bojonegoro, Mentan Amran dan rombongan disambut Gubernur Jatim Cak Karwo serta Bupati Bojonegoro, Suyoto, melakukan panen dihamparan seluas 800 hektar dari 1830 hektar sawahyang siap panen di Kecamatan Kanor.

Media mendesak mentan dengan pertanyaan, kenapa  harus impor beras? Mentan  Amran dengan lugas menjawab, bahwa Kementerian Pertanian bertanggung jawab pada rana produksi.

“Silahkan ditulis dan tanyakan pada petani, ini membuktikan dan menjawab semua pihak yang meragukan kerja keras petani Indonesia,” katanya.

Gubenur Jatim dan Bupati Bojonegoro, tegas menolak beras impor dan meminta peninjauan kembali rencana impor beras. Kab. Bojonegoro, memulai panen raya di bulan Januari 8.227 hektar dan bulan Februari 35.779 hektar,  dan bulan Maret 25.964 hektar.Sedangkan bulan april nanti ada 3527 hektar dan dari Desember hingga Mei nanti ada 78.200 hektar .

“Jadi untuk apa kita impor,” tegas bupati bojonegoro.

 

 

 

 

 

Disisi lain gubernur jatim sangat mengeluhkan minimnya realisasi serapan bulog yang tidak sampai 50 persen dari target serapan tahun 2017.

Prop. Jawa Tengah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan sejarah baru Pertanian di era Mentan Andi Amran. Jawa Tengah, sejak MT. 2015/2016 hingga 2017, Prop. Jateng, mengalami surplus beras hingga 300 ribu ton.Jateng mendistribusikan kelebihan produksi beras, ke beberapa propinsi di sumatera dan kalimantan.

Ganjar, nenambahkan bahwa yang paling dirasakan daerah adalah terobosan dari mentan melakukan sinergitas antar instansi dan pemda tingkat propinsi hingga kabupaten kota, serta jaminan harga pembelian produksi petani dari pemerintah ,  telah mendorong semangat usaha tani.

Prop. Jawa Tengah, memiliki lahan sawah 1,03 juta hektar , pada bulan Januari ada 109 ribu hektar lahan siap panen hingga Februari 2018 ini.Seluas  329 ribu hektar sawah di Jateng siap panen dari perhitungan data panen awal bulan januari hingga april 2018, total produksi beras jateng mencapai 2,3 juta ton, jauh diatas angka kebutuhan konsumsi beras masyarakat jateng.

Ganjar Pranowo, menegaskan, sejak kementan di komadoi Amran Sulaiman, masyarakat Jateng setiap hari surplus beras.

Mentan Andi Amran Sulaiman, mengawali dengan menanam padi serta panen awal di Kab. Demak, seluas 7000 hektar dengan produktivitas rata-rata 9,2 ton, mentan mendapat penjelasan langsung dari bupati demak, M. Natsir, bahwa saat ini harga gabah turunRp 500 hingga Rp700/kilonya. Hampir serupa dengan Prop. Jatim yang langsung terimbas isu beras impor dan menurunkan harga gabahRp 600 .

Bupati demak dengan tegas menolak beras impor masuk demak,  bahkan bulan  februari 2018  Kabupaten Demak akan panen raya seluas 38000 hektar.

Anjloknya harga gabah petani, menurut karyadi, agak berbeda. Kali ini isu impor beras dibuat alasan pengepul gabah dan menurunkan harga sampai lebih dari 10 persen. Biasanya turun itu dari Rp100 hingga  Rp300 , kali ini langsung Rp 500 hingga  Rp 600 .

Mentan. Andi Amran Sulaiman, melanjutkan tanam dan panen padi di Kab. Kudus, pada hamparan seluas 1871 hektar, Kab. Grobogan, 12064 hektar dan Kab. Sragen, pada luasan 486 hektar. Dari seluruh rangkaian kunjungan kerja mentan yang menjadi catatan penting adalah turunnya harga jual gabah petani, rata-rata Rp 500  disemua wilayah.

Mentan, menegaskan Prop. Jawa Tengah, akan panen padi seluas 300.000 hektar pada bulan Februari, dengan rata-rata produktivitas 6 ton/ha, akan dihasilkan 1,8 juta ton gabah, setara 900.000 ton beras, sedang konsumsi masyarakat Jateng hanya 260.000 ton/bulan, itu berarti surplus.

Mentan, berharap turunnya harga gabah ditingkat petani pada awal panen tersebut juga harus mempengaruhi harga beras ditingkat pengecer.Mentan juga meminta agar Bulog menjalankan komitmen untuk menyerap gabah petani dengan maksimal atsu minimal 2 juta ton beras.

Petani, diberbagai tempat yang ditemui media, menitip pesan agar impor Beras dibatalkan, kalaupun di impor jangan dipasarkan saat panen raya sekarang ini.

“Kami petani, baru 2 tahun menikmati kenyamanan kog tiba-tiba, direcokin impor. Tolong mas, ditulis,”pinta mereka pada media.

Oleh karena itu kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman harus didukung semua pihak. (*/dari berbagai sumber/bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan